jump to navigation

Nazaruddin, Singapura dan Tempat ‘Kongkow’ para buron 21 July 2011

Posted by mamazahra in Seputar Kita.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Salah satu budaya khas di Indonesia yang marak belakangan ini adalah “berita musiman”. Berita musiman sering disebut juga sebagai Hot Topic atau Seasonal Topic. Biasanya lahir dengan tema-tema yang beragam, mulai dari kasus korupsi, kasus hukum yang unik (berbagai ‘akrobat’ para hakim di pengadilan yg mengesampingkan azas keadilan masyarakat), mega skandal, kasus politik, kasus pembuhuhan (yang melibatkan pejabat publik), ulah selebriti. Kasus Muhammad Nazaruddin (mantan Bendahara Umum partai Demokrat) adalah yang terkini ramai dibicarakan jutaan orang di tanah air. Semua “Hot Topics” di tanah air itu faktanya lebih diminati oleh berbagai media dan juga oleh sebagian masyarakat di tanah air, ketimbang prestasi dari anak-anak Indonesia yang sukses merebut Juara Olympiade Fisika, atau sejumlah prestasi anak-anak bangsa yang membanggakan lainnya. Intinya, setiap hari masyarakat di tanah air lebih banyak disajikan berita-beraita seputar “Hot Topics” seperti yang sudah saya sebutkan di atas itu. Jemu memang….tapi itulah keseharian yang ada di sekitar kita ya!

Belakangan kasus Nazaruddin (Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum partai Demokrat) yang kabur ke Singapura menjadi TOP Hits, baik di layar kaca, maupun di media cetak. Terlebih setelah beredarnya SMS Nazaruddin yang menghebohkan itu, dan juga blog Nazaruddin yang diduga dibikinnya di tempat persembuyiannya.

Mengapa orang-orang yang memiliki kasus dugaan hukum dan politik (terutama berkaitan dengan kasus korupsi) lebih suka ‘kabur’ ke negeri yang suka dijuluki Temasek ini? Jawabannya karena Singapura adalah ‘kasur empuk’ bagi pelarian mega dana (biasanya dari hasil yang tidak wajar). Dan cilakanya lagi, pemerintah Indonesia tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Singapura.

Sekilas tentang Singapura

  • Luas tanah daratan Singapura hanya seluas 710 kilometer persegi (atau kurang dari 1/4 luas kota Garut yang luasnya 3,065.19 kilometer persegi itu).
  • Singapura juga tidak memiliki kekayaan alam yang signifikan, jika dibandingkan Indonesia, Singapura hanya bak seonggok pasir berbanding bukit. Namun pemerintah Singapura dan juga penduduknya sadar akan hal ini, mereka menjadi negara terbersih sedunia dalam hal korupsi dan mendayagunakan ekonominya seefisien mungkin utk memakmurkan rakyatnya yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa itu.
  • Sekitar 70% air bersih di Singapura diimpor langsung dari Malaysia dan sisanya diproduksi sendiri melalui mesin konversi dan destilasi air laut menjadi air tawar yang siap diminum dimana saja dan kapan saja. Semua air yang mengalir di saluran kran air Singapura aman untuk diminum. (bandingkan dengan air PAM kita yang terkadang masih butek kalo sehabis hujan/dini hari, atau penyakit akutnya: mampet).
  • Pendapatan perkapita penduduk Singapura menempati rangking ke-3 dunia, yakni sebesar $56,522. Bandingkan dengan pendapatan perkapita rata-rata penduduk Indonesia yang menempati rangking ke-128 dunia (di atas Republik Congo), yakni hanya sebesar $4,379.
  • Nilai Cadangan Devisa Singapura saat ini menempati urutan ke-10 dunia, yakni sejumlah $242.524 Milyar (tidak termasuk kapital yang dikelola oleh Sovereign Wealth Funds negara tersebut bernama Temasek Holding, yakni sekitar $300 milyar dan GIC Investment Holding sekira $250 milyar). Bandingkan dengan cadangan devisa Bank Indonesia hanya $119.65 milyar.

Tempat ‘Kongkow’ di Singapura bagi orang-orang yang diduga sebagai buron

Kata suami saya (yang sehari-harinya bekerja sebagai penasehat keuangan di Singapura), para buronan korupsi biasanya ‘kabur’ ke Singapura terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tanah air (jika mereka memandang akan selamat dan kasusnya dapat “case colsed’) atau ‘kabur’ menuju negara lainnya seperti China (termasuk Hongkong dan Macau), Australia atau pun ke negara-negara Uni Eropa.

Setelah saya tanya kepada suami saya mengenai apa alasannya ke Singapura terlebih dahulu sebelum bergerak ke negara lainnya? Suami saya menjawab sebagai berikut:

1) Singapura memiliki Undang-udang Trust (Trust Act) yang melindungi kekayaan individu, terutama biasa dipakai untuk mempercayakan sejumlah kekayaannya kepada perusahaan jasa TRUST(Trust Service) yang akan memenej dana nasabahnya untuk kepentingan investasi, warisan, pendidikan, chartiy, simpan, dll. Belakangan pemerintah Singapura membuat regulasi di sektor jasa keuangannya (dimana Trust Service merupakan bagian dari industri ini) yang memberikan sejumlah benefit (keuntungan) kepada orang asing yang mau memakai layanan Trust Service di Singapura, dua hal utama dari benefit tersebut adalah: perpajakan yang sangat minimal dan kerahasiaan data. Bahkan tahun lalu, jumlah orang asing yang memakai jasa Trust di Singapura ini telah mengalahkan jumlah orang yang memakai jasa yang sama di kawasan “Tust Zone” terkenal dunia seperti: British Virgin Island (BVI), Cayman Island, Labuan Malaysia, dll.;

2) Belum ada perjanjian esktradisi antara Indonesia dan Singapura, terutama untuk mengembalikan orang yang diduga tersangkut kasus korupsi atau politik;

3) Singapura menjadi basis investasi portofolio yang paling luktraktif di kawasan Asia bahkan dunia, dengan menerapkan pajak 0% (NOL persen) atas keuntungan investasi (capital gain) dan berbagai tax benefit di sektor jasa keuangannya. Singapura juga sering dijuluki sebagai “the land of investor friendly”.

Oleh karena itulah, kenapa para pemilik mega-dana (terutama mereka yang memiliki duit besar dari cara-cara yang tidak wajar), selalu memilih Singapura menjadi basis pertama mereka untuk ‘kabur’ dan ‘mengamankan’ gundukan duit mereka.

Ketika saya bertanya kepada suami saya “Koq polisi Indonesia dan KPK tidak bisa menangkap para buronan itu?” Dengan enteng suami saya menjawab, “Ya mereka (polisi dan KPK-pen) ini salah, cari buronan malah ke Orchard road dan Boat Quay (kayak mau pesiar atau shopping aja ya..hehehe), di siang hari lagi…salah dong! Mustinya, mereka pergi ke kawasan ‘mid-night leasure zone’ di Clark Quay mulai tengah malam hingga menjelang subuh (kawasan ini merupakan persinggahan pertama para turis ‘bule’ yang berasal dari negara-negara sub-tropis yang harus menyesuaikan waktu melek mereka dengan waktu yg berlaku di Singapura, banyak sekali orang-orang Indonesia berkantong super tebal yang hang out di restoran-restoran tengah malamnya-pen), juga di cobalah pergi ke kawasan restoran dan cafe seputaran Arab Street di atas pukul 11 malam atau ke kawasan Little India antara pukul 1.00 AM – 4.00 AM….nah ntar ketemu deh!”

Sebenarnya, di Singapura banyak sekali lho perusahaan jasa detektif swasta. Mereka berasal dari para mantan anggota interpol ataupun mantan polisi senior Singapura yang setelah pensiun membuka jasa detektif swasta tersebut. Nah, kalo mau lebih cepat ketemu orang yang dicari-cari itu, bisa gunakan jasa detektif swasta Singapura…betul ga?! Halah…pusing ya! Ibu rumah tangga koq mikirin yang ginian…mikirin harga-harga kebutuhan pokok yang semakin melambung aja sdh pusssiinng….huuufft *gelenggelengkepala*

Advertisements