jump to navigation

Pendidikan Tinggi di Indonesia. Apa kabar nasibmu? 12 July 2011

Posted by mamazahra in Sharing tentang anak-anak.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Belakangan ini media massa di tanah air (televisi, radio, koran dan majalah) cukup gencar mengetengahkan pemberitaan yang mengusung keprihatinan dari berbagai stratum masyarakat kita. Tahun ini, bagi lulusan sekolah menengah atas (khususnya SLTA) akan lebih sulit menembus PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dengan ‘jalur normal’. Alasannya, saat ini sekira 70% bangku di PTN akan diisi oleh mahasiswa baru dengan status “Undangan” (konon status ini harus merogoh kocek hingga sedalam Rp 400 juta…Waow!!). Jika hal ini benar adanya, maka hanya sekira 30% kursi PTN yg dapat diperebutkan lulusan siswa SLTA dengan jalur SNMPTN.

Tantangan Pendidikan Tinggi di Indonesia Menurut Dirjen (DIKTI)

Dalam situsnya (www.dikti.go.id), Kantor Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) memaparkan tentang tantangan di level Pendidikan Tinggi Indonesia. Dikatakan bahwa enam puluh tiga tahun (63) tahun sudah pendidikan tinggi Indonesia eksis dan berkembang di bumi persada ini, dimulai dari hanya memiliki 200 orang mahasiswa saja pasca perang dunia kedua, sampai sekarang berjumlah 4,3 juta mahasiswa dengan 155.000 dosen, yang tersebar pada 82 universitas negeri dan 2800 perguruan tinggi swasta. Dalam interval perjalanan panjang itu perguruan tinggi menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang tidak sama dari masa ke masa. Dan satu pertanyaan mendasar -bisa juga dikatakan sebagai ekspektasi- yang selalu ditanyakan masyarakat adalah apa yang telah dikontribusikan perguruan tinggi untuk mencerdaskan dan mensejahterakan kehidupan bangsa ini. Salah satu masalah mendasar yang dihadapi perguruan tinggi adalah problem relevansi dan mutu yang tidak menggembirakan. Pendidikan tinggi belum bisa menjadi factor penting bagi kenaikan kesejahteraan masyarakat; pendidikan tinggi belum mampu melahirkan para entrepreneur/risk taker dengan orientasi job creating dan kemandirian; pengangguran terdidik dari pendidikan tinggi terus bertambah; belum lagi problem pengabdian masyarakat, di mana perguruan tinggi dirasa kurang responsif dan berkontribusi terhadap problem masyarakat yang berada di wilayah di mana kampus itu berdiri. Perguruan tinggi belum mampu melahirkan lulusan-lulusan yang memiliki akhlak mulia dan karakter yang kuat. Anarkisme/kekerasan intra dan inter kampus seperti membentuk lingkaran kekerasan. Tentu banyak juga prestasi yang telah dicapai, akan tetapi gaung masalah lebih bergema dibandingkan deretan prestasi-prestasi itu.

Apa sebetulnya yang menjadi akar masalah. Apakah akarnya pada paradigma dan legislasi tentang pendidikan tinggi, atau pada implementasinya. Apakah ini problem kultural/mindset, legasi kolonial dan transisi paradigma pendidikan dari pendidikan Belanda ke Pola pendidikan Amerika yang tidak pernah tuntas. Apakah komunikasi yang tidak pernah terjadi perguruan tinggi dengan stakeholders, baik pada triple helix, maupun antara program studi dengan program studi, fakultas dengan fakultas, universitas dengan universitas lain. Melihat pemindaian sederhana ini, Bagaimana pendidikan tinggi Indonesia ke depan.

Untuk itulah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berinisiatif menyelenggarakan sebuah Focus Group Discussion (FGD) pada 29 s/d 30 Oktober ini yang dihadiri oleh para stakeholder pendidikan tinggi. Mereka yang diundang adalah perwakilan perguruan tinggi, pihak Industri/pengusaha, Media, budayawan, Kadin, pemerintah daerah, LPND, organisasi kemasyarakatan, pemerhati dan praktisi pendidikan, dan penerbit. Dari Dikti hadir Dirjen Dikti yang langsung menjadi pengantar dan moderator FGD; para direktur dikti dan Dewan Pertimbangan Perguruan Tinggi (DPT). FGD dibagi dalam empat kelompok diskusi.

Menurut Dirjen Dikti, Fasli Jalal, FGD ini hanya bersifat brainstorming, segala masukan yang sangat berharga dan sangat kaya dari peserta akan direkam, ditulis, dikristalisasi dan dianalisa dengan baik, serta menjadi acuan penting bagi penyusunan renstra pendidikan nasional terutama di bagian pendidikan tinggi, renstra jangka menengah dan panjang yang di susun oleh Bappenas. Setelah masukan dianalisa dan dikluster per tema, Dirjen meminta para stakeholder secara volunteer untuk bergabung sesuai dengan tema yang diminati pada FGD kedua nanti.

Jalur Alternatif Meretas Jalan Sukes: Enterpreneurship dan Scholarships

Sebagai seorang Ibu rumah tangga, saya pun kini memiliki putri yang tahun depan akan memasuki dunia Pendidikan Tinggi. Semula saya sangat bingung, terlebih menyimak pemberitaan di televisi dan koran tentang kualitas pendidikan tinggi di tanah air yang memprihatinkan. Namun setelah saya berdiskusi dengan suami, kami sepakat akan memonitor bakat spesifik putri kami yang saat ini lebih cenderung kepada musikal, bahasa asing dan menulis cerita, serta membuka peluang ke arah “talented enterpreneurship” bagi putri sulung kami tersebut.

Menurut hemat saya, para orang tua tidak harus terlalu cemas dengan keadaan seperti sekarang ini. Mengapa? Karena dunia Enterpreneurship (kewirausahaan) masih terbuka lebar, dimana Indonesia hanya memiliki kurang dari 4% total penduduknya yang menjadi pengusaha. Bagi anak-anak anda yang memiliki hobi atau kemampuan yang unik/spesifik seperti, musikal, menulis, menggambar, menata dan membentuk hasta karya, membuat kue, dan lain sebagainya, sebaiknya didorong ke arah enterpreneursip atau kewirausahaan. Bisa membuka kurus/les private, berdagang, membuat kerajinan tangan, membuka jasa profesional bidang tertentu yg dikuasai, atau bisa juga menjadi suplayer produk tertentu baik dengan keahliannya di bidang barang ataupun bidang jasa.

Untuk para orang tua yang memiliki anak-anak dengan kemampuan spesifik/unik tersebut, maka selepas SLTA dapat memberikan pendidikan khsusus yang menunjang hobi atau kemampuan khususnya anak-anaknya tersebut, seperti: bidang musikal, teatrikal, menggambar/melukis, membuat kue, merancang bangunan, komputer (hardware/software), dan lain sebagainya. Kursus bidang yang spesifik tersebut bisa diberikan selama 6 bulan s/d 1 tahun, dimana visi kedepannya putra-putri kita akan diarahkan untuk berwirausaha pada bidang yang ditekuni (telented enterpreneurship).

Selain itu masih ada jalur beasiswa (scholarships) dari berbagai institusi baik dari dalam maupun luar negeri sebagai sebuah alternatif lain. Coba deh ‘lari’ ke mesin pencari (search engine) lalu ketikan kata “beasiswa” atau “sholarships“. Maka kita akan menemukan ribuan kesempatan untuk anak-anak kita dalam memperoleh beasiswa untuk berbagai bidang kajian ilmu di tingkat pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.

Jadi, jangan terlalu cemas ya! Seperti pepatah mengatakan, “masih banyak jalan menuju ke Roma“. Sambil terus berdo’a kepada Tuhan YMK, mari dorong semangat anak-anak kita untuk tetap tenang menjalani keseharian studinya.
Keep the spirit high OK!  🙂

Anak kegemukan atau sehat? 8 October 2009

Posted by mamazahra in Sharing tentang anak-anak.
Tags: , , ,
add a comment

Anak Gemuk

Moms Indonesia yang bahagia,

Apakah anda memiliki anak yang kegemukan (gemuk sekali)?

Seringkali para ibu merasa bangga, gemas, senang jika memiliki anak yang gemuk. Kadang ibu-ibu tetangga bilang pada anak kita yang gemuk itu “…duh, lucunya…” atau ungkapan seperti “…gemes, pengen nyubit pipinya..” dan komentar lainnya.

Namun Dokter Suririnah mengingatkan kita agar menjaga pola makan anak dengan berat badan ‘ subur ‘ tersebut. Beliau bilang, “Bila anak anda mengalami KEGEMUKAN atau kelebihan berat badan….Jangan merasa sendirian,…. Menurut penelitian terbaru terjadi peningkatan persentasi kegemukan pada anak-anak didunia.”

Penelitian menunjukkan bahwa kegemukan pada anak jaman sekarang disebabkan karena kurangnya aktivitas dalam gaya hidup dan juga cara serta kebiasaan makan

Kegemukan merupakan faktor resiko besar terjadinya masalah jantung, tekanan darah tinggi, gula darah dll. Oleh karenanya orang tua harus berfikir tentang kesehatan anak dimasa datang.

Tidak ada cara yang cepat dan mudah untuk menolong anak anda menurunkan berat badannya. Diperlukan waktu yang panjang untuk merubah cara hidup dan kebiasaan makan yang mungkin tidak sesuai dengan kebiasaan keluarga anda.

Dr. Suririnah memberikan kita beberapa Tips untuk mencegah atau mengatasi Kegemukan pada anak:

UBAHLAH GAYA HIDUP KITA SENDIRI. Sebagai orang tua kita harus menjadi contoh yang baik dalam penerapan cara hidup dan makan yang sehat.

SEDIAKAN WAKTU UNTUK EXERCISE (aktivitas). Temukan aktivitas yang disukai dan menarik untuk anak anda dan dapat membakar kalori sepeti: berlari, berenang, naik sepeda, berjalan (jogging). Lakukan ini secara rutin.

PILIHLAH MAKANAN YANG SEHAT. Kurangi makanan “fastfood or junk food” yang hanya mengandung tinggi lemak dan garam. Kurangi konsumsi gula. Berikan anak 3 kali makan dengan porsi kecil dan 3 kali makanan kecil(snack) dengan porsi kecil, sehingga anak tidak merasa lapar. Berikan banyak minum air putih juga juice seperti orange juice yang mengandung vit.c juga serat, juga berikan banyak makan buah dan sayuran. Pilihlah snack yang rendah lemak.

UBAHLAH KEBIASAAN MAKAN KELUARGA. Berikan makan pada anak hanya bila anak anda lapar dan bukan karena sekedar ingin makan sesuatu. Bila anak anda baru saja makan dan ingin untuk makan lagi cobalah untuk mengalihkan aktivitasnya atau memberikan sesuatu yang lain, karena anda tahu anak anda tidak benar-benar lapar. Jangan pernah makan atau ngemil selama nonton TV.

BERIKAN DUKUNGAN ANDA. Sangat penting untuk seluruh keluarga merubah cara hidup untuk menolong anak anda. Jangan menyimpan makanan junk food, minuman soda yang kaya akan gula, makanan tinggi lemak (potato chip dll) dirumah anda. Siapkan menu makanan yang rendah lemak dan sehat untuk seluruh keluarga. Ikuti kegiatan exercise.

BERIKANLAH PUJIAN ATAU PERHATIAN BILA ANAK SUDAH MELAKUKAN SESUATU YANG BAIK. Hadiah dan pujian dapat memotivasi anak untuk tetap berdiet. Contohnya bila anak anda dalam 1 minggu berinisiatif untuk minum air putih ketimbang soda maka pujilah anak anda, berikan hadiah mainan atau aktivitas kesenangannya, tapi JANGAN berikan makanan sebagai hadiah.

PERIKSAKAN KE DOKTER. Periksakanlah anak anda ke dokter/dokter anak untuk pengawasan diet juga mengecek berat badanya setiap 2-4 minggu sekali. Hindari menimbang berat badan anak setiap waktu dirumah karena dapat menimbulkan stress pada anak anda.

Sebagai orang tua kita harus melakukan peranan kita untuk menolong anak kita, yang hanya tindakan sederhana tapi memberikan perubahan yang tetap terhadap cara hidup, kebiasaan olahraga dan makan pada anak nantinya. Yang semuanya ini sangat bermanfaat bagi kesehatan anak anda di masa datang.

Moms, mohon diperhatikan yaa….

Si kecil bangga dengan hasil karyanya 8 October 2009

Posted by mamazahra in Sharing tentang anak-anak.
Tags: , , , , ,
add a comment

42-15319093

Moms yang selalu bangga dengan anak-anaknya,

Setiap manusia terlahir dengan memiliki kecenderungan gemar berkreasi. Bahkan seorang bayi yang baru sebulan pun sering mencoba hal-hal baru seperti misalnya membuat rengekan baru yang dimaksudkan untuk lebih menarik perhatian ibunya, atau gerakan-gerakan tangan dan kaki saat meminta anda menyuapinya dengan ASI dengan belaian hangat anda.

Penelitian di General Psychiatry Inggris menyebutkan bahwa lebih dari 80% anak yang dipuji hasil karyanya memiliki kecenderungan perkembangan yang lebih sehat secara psikis.

Suatu hari saya menjumpai anak lelaki saya menyusun mainan semaacm iron puzzle hingga larut malam dan saya membiarkannya hingga dia tertidur. Esok paginya saat dia terbangun dia mencari mainannya tersebut seperti seseorang yang kehilangan emas sekarung hehe…. Namun sejurus kemudian, saat mainan hasil karyanya itu telah ditemukan di kolong tempat tidurnya, dia memperlihatkannya pada saya dengan penuh rasa bangga. “Lihat, ma! Aku bisa membuatnya menjadi pesawat terbang“.

Moms yang selalu sabar,

Jangan sepelekan karya terkecil sekalipun dari anak kita yaa. Sebab anak yang dididik dengan pujian orang tuanya kelak akan tumbuh menjadi manusia yang Pe De (percaya diri). Namun moms juga musti mengimbangi pula dengan mengajarkannya tentang nilai dan falsafah kehidupan lainnya, sehingga kebanggan itu agar tidak menjerumuskannya karena berubah menjadi kesombongan, namun kebanggaan yang membuatnya memiliki semangat berbagi buat sesamanya dari percikan karya dan potensi yang dia miliki untuk kemaslahatan orang lain di sekelilingnya.

Moms mempunyai pengalaman seperti ini kah? Cerita di sini yaa…