jump to navigation

Detik-detik Wafatnya Sang Pembawa Rahmat Bagi Alam Semesta 13 February 2012

Posted by mamazahra in Islam dan Kalam Suci.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Kubur Rasulullah saww

Ya Rasulallah… Izinkanlah kami berziarah ke pusaramu!

Tiba-tiba dari luar pas pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintainya seperti ia mencintai kita? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi sungguh begitu cintanya Rasulullah kepada kita.

“Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat”

Sumber:: http://www.ipabionline.com

SHALAT SUNNAH GHUFAILAH DAN DO’A QUNUT YANG MUSTAJABAH 21 September 2011

Posted by mamazahra in Islam dan Kalam Suci.
Tags: , , , , , , , , , , ,
3 comments

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM…

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD
Di dalam kitab Mafatihul Jinan, Bab 1, Hal 105 karya Syekh Abbas al Qummi (semoga Allah swt mensucikan ruh beliau) yg menukil dari kitab Misbah al Mutahajjid. Diriwayatkan bahwa para Imam Ahlulbayt yg bersumber dari Rasulullah saww selalu melakukan shalat sunnah Ghufailah.

Shalat sunnah Ghufailah ini dilakukan setelah shalat Maghrib. Shalat sunnah Ghufailah terdiri dari dua raka’at yg diselingi oleh do’a Qunut yg mustajabah.

Berikut cara mengerjakan shalat sunnah Ghufailah :

Pada rakaat pertama setelah membaca surah Al-Fâtihah bacalah ayat 87-88 dari surah Al Anbiya, seperti berikut ini:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

وَ ذَا النُّوْنِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَ نَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَ كَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya:
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nuun (Nabi Yunus as), ketika ia pergi dalam keadaan marah (frustasi-pen), lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). Maka ia (Nabi Yunus as-pen) menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan, dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”

Pada rakaat kedua setelah membaca surah Al-Fâtihah bacalah ayat 59 dari surah Al An’am, seperti berikut ini:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
وَ عِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَ يَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ وَ مَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَ لاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَ لاَ رَطْبٍ وَ لاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مُبِيْنٍ

Artinya:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis di dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Setelah itu lakukan takbir dan angkatlah tangan Anda kemudian bacalah doa qunut berikut ini (sebelum ruku’):

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِمَفَاتِحِ الْغَيْبِ الَّتِيْ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَ أَنْ تَفْعَلَ بِيْ
Allaahumma innii as’aluka bimafaatihul ghaibi, allatii laa ya’lamuhaa illaa anta, antushalliya ‘alaa Muhammadin wa Aalihi, wa antaf’ala bii….

Artinya:
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan kunci-kunci alam ghaib yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali Engkau agar Engkau melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, dan menganugerhakan kepadaku …” (ucapkanlah segala hajat/keinginan anda kepada Allah swt-secara zahar).

Kemudian bacalah:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ وَلِيُّ نِعْمَتِيْ وَ الْقَادِرُ عَلَى طَلِبَتِيْ تَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ عَلَيْهِ وَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ لَمَّا قَضَيْتَهَا لِيْ
Allaahumma anta waliyyu ni’matii walqaadiruu ‘alaa thalibatii ta’lamu haajatii, fa as’aluka bi haqqi Muhammadin wa Aalihi ‘alayhi wa ‘alayhissalaam lamaa qadaytahaalii….

Artinya:
“Ya Allah, Engkau adalah pemilik karuniaku, mampu untuk mengabulkan segala permintaanku dan mengetahui segala keinginanku. Aku mohon kepada-Mu dengan hak Nabi Muhammad dan keluarganya agar Engkau mengabulkan segala permintaanku.”

Kemudian sebutkanlah segala hajat dan keinginan Anda. Diriwayatkan bahwa barangsiapa yang mengerjakan shalat Ghufailah ini dan memohon segala keinginannya kepada Allah, niscaya Allah swt akan mengabulkan segala permohonannya itu.

Lalu lakukan ruku’ dan seterusnya hingga tahiyyat dan diakhiri dgn salam.

MALAM AL QADAR 17 August 2011

Posted by mamazahra in Islam dan Kalam Suci.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada tanggal 12 Ramadhan, Zabur diturunkan pada tanggal 18 Ramadhan, dan Al-Qur’an diturunkan pada malam Al-Qadar.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) pernah ditanyai tentang : Mengapa malam Al-Qadar disebut lebih baik dari seribu bulan? Beliau menjawab: “Amal baik di dalamnya lebih baik dari amal seribu bulan yang tidak terdapat malam Al-Qadar.”
(Al-Faqih 2: 158)

Imam Ash-Shadiq (sa) pernah ditanyai tentang malam Al-Qadar. Beliau berkata: “Malam Al-Qadar adalah malam para malaikat dan malaikat pencatat turun ke langit dunia, lalu mereka mencatat persoalan tahunan dan musibah yang akan menimpa pada manusia dan segala persoalannya. Persoalan itu tergantung di sisi Allah swt, tergantung pada kehendak Allah, Allah mendahulukan apa yang dikehendaki-Nya dan menunda apa yang dikehendaki-Nya, menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dan di sisi-Nya ada Ummul Kitab.”
(Al-Wasail 10: 350)

Dialog Nabi Musa (AS) dgn Allah SWT tentang malam Al-Qadar

Rasulullah saww bersabda tentang dialog Nabi Musa (as) dengan Allah swt.

Nabi Musa (as) berkata : “Ilahi, aku ingin dekat dengan-Mu!”
Allah swt menjawab: “Aku dekat dengan orang yang menghidupkan malam Al-Qadar.”

Nabi Musa (as) : “Ilahi, aku ingin kasih sayang-Mu!”
Allah swt : “Kasih sayang-Ku untuk orang yang menyayangi orang-orang miskin di malam Al-Qadar.”

Nabi Musa (as) : “Ilahi, aku ingin keselamatan dalam melintasi Shirathal Mustaqim!”
Allah swt : “Keinginanmu itu untuk orang yang Bersedekah di malam Al-Qadar.”

Nabi Musa (as) : “Ilahi, aku ingin pohon dan buahnya di surga!”
Allah swt : “Keinginanmu itu untuk orang yang bertasbih di malam Al-Qadar.”

Nabi Musa (as) : “Ilahi, aku ingin keselamatan dari neraka!”
Allah swt : “Keinginanmu itu untuk orang memohon ampun di malam Al-Qadar.”

Nabi Musa (as) : Ilahi, aku ingin ridha-Mu!”
Allah swt : “Keinginanmu itu untuk orang yang melakukan shalat dua rakaat di malam Al-Qadar.”

(Mustadrak Al-Wasâil 7: 456)